Hari
itu untuk pertama kalinya saya melihat dengan mata saya sendiri bagaimana
sebenarnya pondok salafi, memang orang-orang disana di didik untuk mengenal
agama seutuhnya. Satu yang merupakan ciri khas pondok salafi mereka hampir
dalam semua kegiatannya menggunakan kain sarung bahkan dalam bermain bola pun
mereka menggunakan kain sarung.
Rasa
bingung terlihat di wajah Alfi saat melihat diriku yang mencari nya, mungkin
wajah saya asing baginya setelah tak berjumpa hampir 15 tahun lamanya, “Baits
ana’e bik mun Bengkulu” kata yang terlontar dari mulut ku menjawab kebingungan
yang ada di wajahnya. Kata “bik Mun” Muna Wati adalah ibuku yang merupakan adek
dari bapaknya Alfi. Kebingungan menghilang sebuah pelukan datang menyambutku,
kebahagiaan tampak di wajahnya hingga matanya terlihat lembab.
Sejak
lama kami sekeluarga berkunjung ke tempat kediaman Alfi dan keluarganya sejak itu
lah pertama kali kami bertemu dan bermain bersama hingga saat ini Alhamdulillah
kami dipertemukan kembali, saat dimana kami sama-sama berjuang menuntut
ilmu di tempat yang berbeda di daerah orang. Sebuah pepatah arab mengatakan “Seandainya tidak ada ilmu nescaya manusia
itu seperti binatang”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar